Tentu saja, saat itu terjadi, Paderewski belum menjadi seorang
Perdana Menteri. Manager Paderewski meminta kedua mahasiswa itu menjamin
pemasukan sebesar USD 2.000 dan kedua mahasiswa tersebut menyanggupinya.
Malam pagelaran berjalan lancar, namun kerja keras kedua mahasiswa
itu ternyata “hanya” menghasilkan uang sebesar USD 1.600. Dengan menahan
malu, kedua mahasiswa itu memberikan penghasilan tersebut kepada
Paderewski, sekaligus menyampaikan surat perjanjian pencicilan USD 400 untuk
memenuhi janji pemasukan USD 2.000.
Paderewski memandang kedua mahasiswa itu dan merobek surat perjanjian
pencicilan tersebut. Paderewski malah mengembalikan USD 1.600 itu kepada mereka
dan berkata, “Keluarkan dulu biaya kerja kalian dan ambil masing-masing fee 10 % untuk biaya tenaga kalian, lalu baru berikan kepadaku
sisanya”
Berpuluh tahun kemudian, Polandia dilanda krisis akibat
peperangan. Paderewski, yang sudah menjabat menjadi seorang politisi dan
diplomat, tergerak untuk mengetuk hati para pejabat maupun pengusaha negara
tetangga untuk memberikan sumbangan bagi Polandia.
Sungguh aneh, karena belum lagi permintaan itu dikirimkan,
tiba-tiba ribuan ton bahan pangan dikirim dari USA ke Polandia. Pengirimnya,
seorang Warga Negara Amerika bernama Herbert Hoover.
Paderewski pergi menemui Herbert Hoover di Paris, karena Hoover
saat itu sedang berada di Paris dan bertugas sebagai ketua US Relief. Hoover
berkata kepada Paderewski, “Tak perlu membalasnya, Tuan Paderewski, itu adalah
kewajiban sesama manusia untuk saling menolong. Lagipula, Anda mungkin tak
ingat, Anda pernah menolong saya. Saya adalah salah satu mahasiswa, yang dulu
pernah berhutang USD 400 pada pagelaran konser Anda”
Herbert Hoover sendiri, tak
lama kemudian, terpilih menjadi Presiden USA yang ke 31.(Diterjemahkan dari sebuah bab dari buku Steve Goodier – A Law of Succesful Living)